CAPAIAN DAN PROSPEK PERUSAHAAN

CAPAIAN DAN PROSPEK 2017
PROSPEK USAHA INTERNASIONAL

Dalam prospek usaha Internasional, tantangan eksternal yang dihadapi oleh Perusahaan adalah ancaman pertumbuhan industri pesaing yang cukup tinggi. Khusus untuk wilayah Asia, terlihat dari ekspansi pendirian pabrik baru yang dilakukan oleh pesaing diantaranya Qafco (Qatar), Petronas (Malaysia) dan PetroVietnam (Vietnam) dan industri pupuk di Tiongkok. Tantangan lainnya adalah produsen pesaing dapat memperoleh alternatif harga gas bumi yang lebih ekonomis dengan ketersediaan cadangan LNG yang cukup tinggi untuk kawasan Timur Tengah dan cadangan shale gas untuk kawasan Amerika. Sementara
itu Perusahaan memperoleh kontrak bahan baku dengan harga yang lebih tinggi dibanding kontrak sebelumnya yang telah berakhir. Tantangan lainnya yang dihadapi Perusahaan adalah umur pabrik yang sudah tidak muda lagi yang berdampak pada kehandalan pabrik dan efisiensi pemakaian bahan baku yang mulai menurun serta kenaikan harga bahan baku.

Di sisi lain, tantangan yang cukup berat bagi Perusahaan di pasar Amoniak kedepan masih berkaitan dengan harga Amoniak internasional yang terus mengalami tren penurunan. Pada tahun 2017, harga FOB untuk wilayah Asia Tenggara mengalami penurunan sebesar hampir 3% dibanding harga pada tahun 2016.

PROSPEK USAHA DOMESTIK
Dalam usaha untuk mengembangkan market share pada pasar domestik, perusahaan dihadapkan pada berbagai tantangan. Tantangan tersebut antara lain persaingan dengan tidak hanya produsen pupuk nasional lain, namun juga dengan produk impor yang masuk ke Indonesia, yang didominasi oleh produk dari Tiongkok. Tantangan lainnya adalah kondisi cuaca ekstrim yang mungkin terjadi dan dapat menyebabkan penyerapan di sektor subsidi kurang optimal. Untuk prospek pupuk Urea non subsidi dan Amoniak dalam negeri, beroperasinya pabrik Pusri 2B di Palembang dan pabrik Amorea 2 di Gresik turut menambah peta persaingan usaha. Isu utama lainnya yang perlu disiapkan oleh Perusahaan adalah
program pemerintah untuk mengalihkan subsidi pupuk dari produsen ke petani.

Hal ini akan membawa implikasi semakin ketatnya persaingan di pasar domestik dimana petani tidak terikat pada merek pupuk tertentu. Khusus pasar Amoniak domestik, berdirinya pabrik PAU di Sulawesi tidak terlalu berpengaruh karena produk PAU akan terserap ke pasar Internasional. Di sisi lain, beroperasinya pabrik Amorea 2 di Gresik sangat berpengaruh pada penyerapan produk Amoniak domestik. Hal ini tentunya akan menjadi tantangan bagi Perusahaan di masa mendatang untuk mendapatkan tambahan pangsa pasar Internasional.
Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian RI pada website Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) tercatat konsumsi pupuk Urea tumbuh sebesar 12% dari tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan peluang pemasaran pupuk Urea di sektor domestik masih terbuka
luas, terutama pada sektor perkebunan di Sumatera dan Kalimantan. Perusahaan juga mulai merambah sektor retail domestik dengan menjual Pupuk Urea dan NPK melalui kios maupun online.

Peluang lainnya adalah pemasaran pupuk majemuk dimana konsumsi pupuk NPK non subsidi juga tumbuh sebesar 6% dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran petani menggunakan pupuk majemuk yang mengandung lebih banyak unsur hara dan meningkatkan kualitas tumbuh tanaman. Untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang tersebut, Perusahaan terus mengembangkan penjualan
secara langsung melalui penjualan retail, pre-marketing NPK Chemical dan penjualan online melalui Go-Pupuk serta menjalin kerjasama dengan distributor untuk meraih pasar yang lebih luas lagi, disamping juga meningkatkan promosi di daerah potensial. Perusahaan juga senantiasa melakukan inovasi pada berbagai bidang sehingga dapat beroperasi dengan lebih efisien dan menekan biaya, langkah - langkah yang telah dilakukan diharapkan mampu meningkatkan kinerja perusahan.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR 
ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Fertecon Urea Outlook Q4/2017 menunjukkan harga pasar Urea Internasional 2017 melemah dari awal tahun hingga pertengahan tahun, sebelum meningkat secara perlahan pada kuartal ketiga dan keempat. Berdasarkan Fertecon Urea Outlook Q4/2017 adanya peningkatan produksi total dunia 1% dari tahun 2016 sebesar 178 juta ton menjadi 181 juta ton pada tahun 2017, sebagai hasil dari meningkatnya capacity utilitation rate dunia dari 78% pada 2016 ke menjadi salah satu faktor yang mendorong harga turun.

Namun jika dilihat kapasitas terpasangnya, ada penurunan sebesar 2% dari tahun 2016 sebesar 228 juta ton ke 223 juta ton pada tahun 2017, salah satu penyebabnya adalah
mulai dimatikannya beberapa pabrik di Tiongkok selama tahun 2017, sehingga mendorong menguatnya harga pada akhir tahun. Sementara untuk pasar Amoniak, tahun 2017-2018
menggambarkan penyesuaian terhadap arus perdagangan Amoniak yang baru dan perubahan dalam permintaan dari tiap daerah yang didorong oleh ketersediaan Amoniak
karena dua proyek Amoniak terbesar hampir selesai, yaitu pabrik BASF/Yara JV di US dan pabrik PAU di Sulawesi. Karena kedua proyek tersebut diperkirakan memasuki pasar pada waktu yang sama yaitu pada awal tahun 2018, sehingga tekanan menurunnya harga Amoniak perlu diantisipasi. Ini juga akan bersamaan dengan dimulainya kontrak pasokan jangka Panjang antara CF dan Mosaic. Fertecon Ammonia Outlook December/2017 menunjukkan konsumsi Amoniak dunia selama 2017 sekitar 183,8 juta ton dan meningkat menjadi 194,4 juta ton pada 2020. Adapun kapasitas terpasang produksi Amoniak dunia meningkat dari 245 juta ton pada 2017 menjadi 252 juta ton pada 2020.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Pasar utama Perusahaan masih berfokus pada pasar Kalimantan dalam memasarkan produk pupuk sektor domestik dengan memanfaatkan keunggulan geografis. Terlihat dari realisasi penjualan Urea non subsidi di wilayah Kalimantan mencapai 44,51% dari total penjualan atau 351 ribu ton, sisanya 29,34% untuk pasar Jawa dan 26,74% untuk pasar Sumatera. Sedangkan untuk realisasi penjualan NPK non subsidi, 47% dari total penjualan atau 15 ribu ton juga terjual di pasar Kalimantan. Selain wilayah Kalimantan sebagai pasar utama, Perusahaan juga berusaha untuk melakukan penetrasi pasar pada wilayah potensial dengan luas lahan perkebunan yang tinggi seperti Sumatera, maupun wilayah dimana banyak berdiri
industri yang membutuhkan Urea sebagai bahan baku seperti Jawa Timur dan wilayah yang banyak terdapat perkebunan seperti Riau. Untuk produk Amoniak, pangsa pasar Domestik sebagian besar masih didominasi oleh pasar Amoniak di Gresik Jawa Timur dan Bontang untuk kebutuhan industri Petrokimia.

RINGKASAN KINERJA 2017



CAPAIAN DAN PROSPEK 2016
PROSPEK USAHA INTERNASIONAL

Tantangan utama bagi prospek usaha pada pasar internasional adalah ancaman pertumbuhan industri pesaing yang cukup tinggi. Khusus untuk wilayah Asia, terlihat dari ekspansi pendirian pabrik baru yang dilakukan oleh pesaing di antaranya Qafco (Qatar),
Petronas (Malaysia), PetroVietnam (Vietnam) dan industri pupuk di Cina. Tantangan lainnya adalah produsen pesaing di kawasan Timur Tengah dan Amerika dapat memperoleh Alternatif harga gas bumi yang lebih ekonomis dengan ketersediaan cadangan shale gas dan LNG yang cukup tinggi. Hal ini dapat mengurangi daya saing Perusahaan di pasar internasional.

Pada 2015, Perusahaan telah menerapkan strategi pembuatan long term contract dan off-take agreement untuk memberikan jaminan pasar atas produknya. Perusahaan juga memiliki keunggulan letak geografis yang lebih dekat untuk akses pasar Asia Tenggara dan Pasifik. Manajemen tetap optimis dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar internasional dengan meningkatkan kualitas produk, optimalisasi kinerja pabrik serta memperluas pangsa pasar dengan melakukan trading dan penjualan Cost and Freight (CFR).

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Pasar Urea internasional 2015 mengalami penurunan harga yang disebabkan kombinasi penurunan permintaan dari Brazil serta peningkatan supply dari Algeria, Indonesia dan Mesir. Penurunan permintaan tersebut juga akibat dari pelemahan mata uang lokal di negara net-importir, seperti Brazil, India, Turki dan Thailand. Fertecon Urea Outlook Q3/2015 menunjukkan konsumsi Urea dunia selama 2015 sekitar 174 juta ton dan meningkat menjadi 189 juta ton pada 2020. Adapun kapasitas terpasang produksi Urea dunia meningkat dari 236-238 juta ton pada 2015 menjadi 267-268 juta ton pada 2020.

Pada awal 2015, harga Urea berada pada level USD321 per ton, mengalami peningkatan pada
bulan Mei-Juni dan akhirnya ditutup turun pada level USD244 per ton atau mengalami depresiasi senilai 24%. Untuk 2016, diprediksi harga Urea internasional tetap mengalami tekanan penurunan dengan kisaran harga antara USD252 – USD297 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Urea terbesar di Indonesia dan memiliki keunggulan letak geografis untuk akses pasar Asia Tenggara dan
Pasifik. Target pemasaran Urea ekspor pada 2016 diarahkan untuk bersaing secara kompetitif dengan produk Cina, terutama untuk pemenuhan kebutuhan di negara net-importir dengan keunggulan biaya pengangkutan yang lebih ekonomis. Perdagangan Amoniak dunia pada 2015 menurut Fertecon Ammonia Outlook Q3/2015 sekitar 17,9 juta ton. Kapasitas pabrik terpasang akan naik dari 231 juta ton pada 2014 menjadi 274,8 juta ton pada 2025 atau ekuivalen 1,6% Compound Annual Growth Rate (CAGR). Untuk wilayah Asia, peningkatan kapasitas produksi Amoniak terutama terjadi di wilayah Cina, Indonesia dan Malaysia.
Harga Amoniak pada awal 2015 pada level USD532 lalu mengalami penurunan hingga bulan September-Oktober di kisaran USD426 – USD431 per ton. Namun, di akhir tahun bergerak turun ke USD405 per ton. Untuk 2016, harga Amoniak diprediksi tetap dalam tekanan penurunan walaupun ada potensi peningkatan permintaan. Hal ini dipicu oleh permintaan produk down-stream Amoniak dari industri di kawasan Maroko, Turki, Australia dan Mesir. Kapasitas produksi Amoniak internasional akan bertambah dengan mulai beroperasinya pabrik baru di Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, Meksiko dan Mesir. Di sisi lain, permintaan Amoniak juga akan mengalami tekanan penurunan akibat depresiasi mata uang lokal di negara importir, yaitu India, Turki, Brazil dan Maroko yang menyumbang sekitar
20% dari perdagangan Amoniak internasional. Diperkirakan harga Amoniak 2016 berkisar antara USD375-USD460 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Amoniak terbesar di Indonesia. Perusahaan memiliki off-take agreement dengan PT Mitsui yang memberikan jaminan hasil produksi akan diserap pasar ekspor.

KONDISI INDUSTRI PUPUK NASIONAL
Di tengah perlambatan ekonomi global, program Pemerintah dalam mencapai swasembada
pangan masih terus diupayakan, terutama dengan dilanjutkannya Program Subsidi Pupuk bagi petani. Hal ini sejalan dengan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015-2045, bahwa pembangunan sektor pertanian dalam 5 (lima) tahun ke depan (2015-2019) akan mengacu pada paradigma Pertanian untuk Pembangunan (Agriculture for Development) yang memposisikan sektor pertanian sebagai penggerak transformasi pembangunan.Dengan adanya paradigma ini, maka diperlukan penggunaan pupuk yang tepat dengan jaminan pasokan pupuk sesuai kebutuhan. 

PROSPEK USAHA DOMESTIK
Ancaman utama yang mempengaruhi prospek usaha Perusahaan di pasar domestik dari sisi internal adalah umur pabrik yang rata-rata tidak muda lagi sehingga tingkat efisiensi rendah. Tantangan eksternal antara lain kepastian pasokan gas alam dengan harga ekonomis, pelemahan nilai Rupiah yang berdampak pada kenaikan utang dalam mata uang USD dan
ketergantungan pada bahan baku impor yang tinggi sehingga mempengaruhi harga pokok produksi. Manajemen tetap optimis dalam berkompetisi di pasar domestik dengan mencermati bahwa ancaman pendatang baru dan produk substitusi pupuk masih
relatif rendah. Produk impor tidak mudah masuk ke pasar domestik disebabkan adanya dominasi produsen pupuk di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero). Selain itu, adanya Program Subsidi dari Pemerintah mengakibatkan harga Urea yang dijual ke petani relatif murah dan juga didukung oleh persepsi petani bahwa pupuk Urea merupakan
pupuk utama di bidang pertanian dengan kandungan tertentu yang dibutuhkan tanaman.
Hal ini membentuk brand loyalty sehingga petani tidak mudah beralih ke produk substitusi yang lain.

Prospek usaha lainnya di pasar domestik adalah pemasaran pupuk majemuk yang diprediksi
akan semakin menguat. Hal ini sejalan dengan propaganda Pemerintah dalam pemanfaatan pupuk berimbang yang memberikan hasil lebih optimal bagi peningkatan produktivitas hasil pertanian. Perusahaan telah menindaklanjuti peluang ini dengan cara pengembangan usaha diversifikasi agrokimia dan rencana pembangunan pabrik NPK Cluster. Program ini menjadi prioritas utama dan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan cash flow Perusahaan.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Sesuai Peraturan Menteri Pertanian, kebutuhan Urea dan NPK subsidi pada 2015 masing-masing senilai 4,1 juta ton dan 2,55 juta ton dengan kapasitas terpasang dari pabrik Urea nasional sekitar 7,9 juta ton dan NPK sekitar 2,52 juta ton. Hal ini mengindikasikan produksi pupuk domestik cukup memenuhi kebutuhan Program Subsidi Pemerintah. Kebutuhan pupuk nasional pada 2016 menurut data statistik Asosiasi Perusahaan Pupuk Indonesia (APPI) diproyeksi naik senilai 6,95% dari tahun sebelumnya.

Kenaikan kebutuhan pupuk tersebut dipengaruhi pola konsumsi pupuk oleh petani dan ketersediaan stok di daerah. Strategi Perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan pasar domestik adalah melakukan penetrasi pasar non subsidi dan membuka distribution center di dekat sentra perkebunan Sumatera dan Kalimantan. Pada 2016, Manajemen
tetap melanjutkan komitmen dalam mendukung program pemerintah melalui Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dan penyaluran Urea non subsidi melalui Program Upaya Khusus (UPSUS).

RINGKASAN KINERJA 2016



CAPAIAN DAN PROSPEK 2015
PROSPEK USAHA INTERNASIONAL

Tantangan utama bagi prospek usaha pada pasar internasional adalah ancaman pertumbuhan industri pesaing yang cukup tinggi. Khusus untuk wilayah Asia, terlihat dari ekspansi pendirian pabrik baru yang dilakukan oleh pesaing di antaranya Qafco (Qatar),
Petronas (Malaysia), PetroVietnam (Vietnam) dan industri pupuk di Cina. Tantangan lainnya adalah produsen pesaing di kawasan Timur Tengah dan Amerika dapat memperoleh Alternatif harga gas bumi yang lebih ekonomis dengan ketersediaan cadangan shale gas dan LNG yang cukup tinggi. Hal ini dapat mengurangi daya saing Perusahaan di pasar internasional.

Pada 2015, Perusahaan telah menerapkan strategi pembuatan long term contract dan off-take agreement untuk memberikan jaminan pasar atas produknya. Perusahaan juga memiliki keunggulan letak geografis yang lebih dekat untuk akses pasar Asia Tenggara dan Pasifik. Manajemen tetap optimis dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar internasional dengan meningkatkan kualitas produk, optimalisasi kinerja pabrik serta memperluas pangsa pasar dengan melakukan trading dan penjualan Cost and Freight (CFR).

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR INTERNASIONAL
Pasar Urea internasional 2015 mengalami penurunan harga yang disebabkan kombinasi penurunan permintaan dari Brazil serta peningkatan supply dari Algeria, Indonesia dan Mesir. Penurunan permintaan tersebut juga akibat dari pelemahan mata uang lokal di negara net-importir, seperti Brazil, India, Turki dan Thailand. Fertecon Urea Outlook Q3/2015 menunjukkan konsumsi Urea dunia selama 2015 sekitar 174 juta ton dan meningkat menjadi 189 juta ton pada 2020. Adapun kapasitas terpasang produksi Urea dunia meningkat dari 236-238 juta ton pada 2015 menjadi 267-268 juta ton pada 2020.

Pada awal 2015, harga Urea berada pada level USD321 per ton, mengalami peningkatan pada
bulan Mei-Juni dan akhirnya ditutup turun pada level USD244 per ton atau mengalami depresiasi senilai 24%. Untuk 2016, diprediksi harga Urea internasional tetap mengalami tekanan penurunan dengan kisaran harga antara USD252 – USD297 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Urea terbesar di Indonesia dan memiliki keunggulan letak geografis untuk akses pasar Asia Tenggara dan
Pasifik. Target pemasaran Urea ekspor pada 2016 diarahkan untuk bersaing secara kompetitif dengan produk Cina, terutama untuk pemenuhan kebutuhan di negara net-importir dengan keunggulan biaya pengangkutan yang lebih ekonomis. Perdagangan Amoniak dunia pada 2015 menurut Fertecon Ammonia Outlook Q3/2015 sekitar 17,9 juta ton. Kapasitas pabrik terpasang akan naik dari 231 juta ton pada 2014 menjadi 274,8 juta ton pada 2025 atau ekuivalen 1,6% Compound Annual Growth Rate (CAGR). Untuk wilayah Asia, peningkatan kapasitas produksi Amoniak terutama terjadi di wilayah Cina, Indonesia dan Malaysia.
Harga Amoniak pada awal 2015 pada level USD532 lalu mengalami penurunan hingga bulan September-Oktober di kisaran USD426 – USD431 per ton. Namun, di akhir tahun bergerak turun ke USD405 per ton. Untuk 2016, harga Amoniak diprediksi tetap dalam tekanan penurunan walaupun ada potensi peningkatan permintaan. Hal ini dipicu oleh permintaan produk down-stream Amoniak dari industri di kawasan Maroko, Turki, Australia dan Mesir. Kapasitas produksi Amoniak internasional akan bertambah dengan mulai beroperasinya pabrik baru di Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, Meksiko dan Mesir. Di sisi lain, permintaan Amoniak juga akan mengalami tekanan penurunan akibat depresiasi mata uang lokal di negara importir, yaitu India, Turki, Brazil dan Maroko yang menyumbang sekitar
20% dari perdagangan Amoniak internasional. Diperkirakan harga Amoniak 2016 berkisar antara USD375-USD460 per ton. Pupuk Kaltim di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan produsen Amoniak terbesar di Indonesia. Perusahaan memiliki off-take agreement dengan PT Mitsui yang memberikan jaminan hasil produksi akan diserap pasar ekspor.

KONDISI INDUSTRI PUPUK NASIONAL
Di tengah perlambatan ekonomi global, program Pemerintah dalam mencapai swasembada
pangan masih terus diupayakan, terutama dengan dilanjutkannya Program Subsidi Pupuk bagi petani. Hal ini sejalan dengan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015-2045, bahwa pembangunan sektor pertanian dalam 5 (lima) tahun ke depan (2015-2019) akan mengacu pada paradigma Pertanian untuk Pembangunan (Agriculture for Development) yang memposisikan sektor pertanian sebagai penggerak transformasi pembangunan.Dengan adanya paradigma ini, maka diperlukan penggunaan pupuk yang tepat dengan jaminan pasokan pupuk sesuai kebutuhan. 

PROSPEK USAHA DOMESTIK
Ancaman utama yang mempengaruhi prospek usaha Perusahaan di pasar domestik dari sisi internal adalah umur pabrik yang rata-rata tidak muda lagi sehingga tingkat efisiensi rendah. Tantangan eksternal antara lain kepastian pasokan gas alam dengan harga ekonomis, pelemahan nilai Rupiah yang berdampak pada kenaikan utang dalam mata uang USD dan
ketergantungan pada bahan baku impor yang tinggi sehingga mempengaruhi harga pokok produksi. Manajemen tetap optimis dalam berkompetisi di pasar domestik dengan mencermati bahwa ancaman pendatang baru dan produk substitusi pupuk masih
relatif rendah. Produk impor tidak mudah masuk ke pasar domestik disebabkan adanya dominasi produsen pupuk di bawah koordinasi PT Pupuk Indonesia (Persero). Selain itu, adanya Program Subsidi dari Pemerintah mengakibatkan harga Urea yang dijual ke petani relatif murah dan juga didukung oleh persepsi petani bahwa pupuk Urea merupakan
pupuk utama di bidang pertanian dengan kandungan tertentu yang dibutuhkan tanaman.
Hal ini membentuk brand loyalty sehingga petani tidak mudah beralih ke produk substitusi yang lain.

Prospek usaha lainnya di pasar domestik adalah pemasaran pupuk majemuk yang diprediksi
akan semakin menguat. Hal ini sejalan dengan propaganda Pemerintah dalam pemanfaatan pupuk berimbang yang memberikan hasil lebih optimal bagi peningkatan produktivitas hasil pertanian. Perusahaan telah menindaklanjuti peluang ini dengan cara pengembangan usaha diversifikasi agrokimia dan rencana pembangunan pabrik NPK Cluster. Program ini menjadi prioritas utama dan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan cash flow Perusahaan.

ASPEK PEMASARAN DAN PANGSA PASAR DOMESTIK
Sesuai Peraturan Menteri Pertanian, kebutuhan Urea dan NPK subsidi pada 2015 masing-masing senilai 4,1 juta ton dan 2,55 juta ton dengan kapasitas terpasang dari pabrik Urea nasional sekitar 7,9 juta ton dan NPK sekitar 2,52 juta ton. Hal ini mengindikasikan produksi pupuk domestik cukup memenuhi kebutuhan Program Subsidi Pemerintah. Kebutuhan pupuk nasional pada 2016 menurut data statistik Asosiasi Perusahaan Pupuk Indonesia (APPI) diproyeksi naik senilai 6,95% dari tahun sebelumnya.

Kenaikan kebutuhan pupuk tersebut dipengaruhi pola konsumsi pupuk oleh petani dan ketersediaan stok di daerah. Strategi Perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan pasar domestik adalah melakukan penetrasi pasar non subsidi dan membuka distribution center di dekat sentra perkebunan Sumatera dan Kalimantan. Pada 2016, Manajemen
tetap melanjutkan komitmen dalam mendukung program pemerintah melalui Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dan penyaluran Urea non subsidi melalui Program Upaya Khusus (UPSUS).

RINGKASAN KINERJA 2015
Ringkasan Kinerja 2015

Afiliasi & Anak Perusahaan

NEXT PAGE
Grand Platinum

SNI GRAND
PLATINUM

PROPER
EMAS

INDUSTRI
HIJAU LV.5