Jum'at, 24 Juli 2009 Industri pupuk defisit gas 2010

JAKARTA: Sebagian pabrik pupuk urea, yang semuanya berstatus badan usaha milik negara (BUMN), berpotensi mengalami defisit pasokan gas mulai tahun depan Defisit tersebut diperkirakan semakin meluas ke seluruh pabrik urea menyusul kian menipisnya cadangan gas dan kebijakan energi yang lebih berorientasi pada ekspor.

Ketua Umum Federasi Industri Kimia Indonesia (FIKI) Hidayat Nyakman mengungkapkan sumber-sumber gas di dalam negeri yang semakin terbatas dan mahal merupakan ancaman serius bagi kinerja industri pupuk nasional. Ekspor gas secara besar-besaran setiap tahun menyebabkan industri pupuk bekerja dengan sumber bahan bakar yang sangat terbatas.

Berdasarkan neraca kebutuhan gas yang dirilis FIKI, total konsumsi gas di pabrik pupuk pada tahun depan mencapai 793 MMscfd (million standard cubic feet per day/juta standar kaki kubik per hari) atau 273.585 MMscf per tahun. Namun, industri gas nasional diperkirakan hanya mampu memasok sekitar 85%-90% dari total kebutuhan itu. Meskipun seluruh pabrik pupuk telah mengikat kontrak dengan para pemasok gas, jelasnya, suplainya diperkirakan hanya berkisar 713,7 MMscfd atau total 260.500,5 MMscf dalam setahun.

Kebutuhan gas bumi pabrik urea pada 2010 – 2025 (MMscfd)

Perusahaan

2010

2015

2020

2025

Pupuk Sriwidjaya

225,0

289,5

313,0

313,0

Pupuk Kalimantan Timur

285,0

318,0

318,0

318,0

Petrokimia Gresik

65,0

130,0

130,0

130,0

Pupuk Kujang

108,0

134,0

134,0

134,0

Pupuk Iskandar Muda

110,0

110,0

110,0

110,0

Proyek Pupuk Tangguh

-

91,0

182,0

182,0

Jumlah

793,0

1.072,5

1.187,0

1.187,0

Sumber: PT Pusri Holdings, 2009

“Jika pasok gas bisa dipenuhi dalam volume ideal, saya kira tidak masalah. Kenyataannya, beberapa pabrik seperti PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Kudjang Cikampek (PKC), dan PT Pupuk Sriwidjaja, tidak memiliki kepastian kontrak gas pada tahun depan,” jelas Hidayat kemarin.

Menurut dia, dari total kebutuhan gas PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) sebanyak 285 MMscfd yang dipasok oleh Chevron, Total, Vico, dan Inpex, realisasinya diprediksi hanya sekitar 250–256 MMscfd. “PKC bahkan sampai saat ini tidak memiliki kepastian pasokan gas. Terakhir kali, dia [PKC] hanya mendapatkan kontrak untuk setahun.”

Menurut catatan FIKI, untuk mengoperasikan kedua pabriknya, PKC membutuhkan pasokan gas sebesar 108 MMscfd dari BP Indonesia dan Pertamina. Namun, kontrak untuk pabrik Kudjang I-B sebesar 45 MMscfd, ternyata telah habis pada 31 Desember 2008.

“Untuk PIM, besarnya volume gas dan yang akan dialirkan oleh MedcoEnergy juga tidak jelas kelanjutan kontraknya. Pabrik pupuk kan tidak hanya beroperasi selama setahun, tetapi berpuluh-puluh tahun. Karena itu kepastian pasokan gas menjadi persyaratan mutlak,” jelasnya.

Menurut proyeksi FIKI, konsumsi gas di industri pupuk pada 2015 bahkan diprediksi melonjak 35,245% dibandingkan dengan 2010 menjadi 1.072,5 MMscfd atau setara 370.013 MMscf per tahun. “Kondisi ini sangat mengkhawatirkan sebab jika pasokan gas tidak memadai, ketahanan pangan nasional juga akan terganggu.”

Program revitalisasi

Hidayat menambahkan proyek revitalisasi pabrik pupuk nasional yang diperkirakan menelan dana hingga US$7 miliar juga bisa terganggu apabila akses terhadap pasokan gas masih mengalami banyak kendala.

Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Pengembangan Investasi dan Percepatan Investasi Industri Prioritas Rauf Purnama mengungkapkan pada 2008 sekitar 53,6% atau setara 33 juta ton gas alam diekspor, baik melalui pemipaan maupun dalam bentuk liquified natural gas (LNG).

Menurut dia, pemakaian gas di dalam negeri hanya sekitar 46,4% dari total produksi yang terdiri dari gas kota (rumah tangga) 14,4%, pupuk 6%, pembangkit listrik dan industri 12,2%, serta lain-lain 13,8%. “Perlu ada konsep baru pemanfaatan gas alam untuk industri agar terjadi kenaikan rantai nilai tambah,” jelasnya.

Berdasarkan data FIKI, dalam proyek revitalisasi industri pupuk nasional diprediksi membutuhkan dana investasi sebesar US$6,55 miliar. Dana itu belum termasuk untuk pengembangan pabrik pupuk ZA dan NPK yang (pupuk majemuk) diperkirakan mencapai hingga US$400 juta.

Pemerintah juga berencana menambah unit produksi amoniak/urea II di Petrokimia Gresik berkapasitas 570.000 ton pada 2013. Selain itu pada 2015, sebanyak dua unit pabrik pupuk baru di Tangguh, Papua, berkapasitas 1,155 juta ton per tahun juga akan didirikan. (yusuf.waluyo@ bisnis.co.id).

Sumber : Yusuf Waluyo Jati, Bisnis Indonesia Online, 23 Juli 2009)







Layanan Pelanggan & Pengaduan