Jum'at, 21 Nopember 2008 Antisipasi Lonjakan Permintaan, PKT Tambah Stok

Jumat, 21 Nopember 2008

JAKARTA (Suara Karya): Produsen pupuk urea terbesar, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), melipatgandakan stok pupuk urea bersubsidi di gudang lini III (tingkat kabupaten). Ini dilakukan guna mengantisipasi lonjakan permintaan pupuk menjelang musim tanam yang dimulai pada Desember nanti.

"Saat ini stok urea sekitar 300.000 ton sudah berada di gudang-gudang lini III. Ketentuan stok (sesuai surat keputusan Menteri Pertanian) hanya sekitar 110.000 ton. Jadi, kami siap mengantisipasi lonjakan permintaan, selama sesuai dengan alokasi (kuota) yang ditentukan SK Mentan, SK gubernur, dan SK bupati," kata Direktur Utama PKT Hidayat Nyakman, di Jakarta, Kamis (20/11).

Bahkan, menurut dia, PKT juga masih memiliki stok pupuk urea di gudang pabrik (lini I) sekitar 63.000 ton. Berdasarkan data stok tersebut, kebutuhan pupuk urea sampai Desember pada 18 provinsi yang menjadi wilayah tanggung jawab PKT sudah bisa dipenuhi. "Kami memperkirakan sampai akhir Desember masih ada stok di lini III sebesar 180.000 ton yang cukup untuk mengantisipasi kebutuhan sampai Januari 2009," ujar Hidayat.

Dia mengatakan, sejauh ini, pasokan pupuk urea bersubsidi untuk tanaman pangan di 18 provinsi yang menjadi tanggung jawab PKT relatif aman. Adapun wilayah yang menjadi tanggung jawab wilayah PKT meliputi sebagian Jawa Timur (28 kabupaten/kota), Jateng (sebelum dialihkan ke Pusri pada Juli 2008), Bali, NTT, NTB, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sultra, Sulsel, Sulbar, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

"PKT siap memenuhi semua kebutuhan pupuk urea yang menjadi tanggung jawabnya, karena dari sisi produksi lancar. Target produksi pupuk urea sebesar 2,35 juta ton tahun ini akan tercapai. Bahkan, pada akhir bulan ini produksi sudah melampaui 2 juta ton," tuturnya.

Pada tahun 2008, PKT mendapat tugas dari pemerintah untuk menyalurkan pupuk urea bersubsidi ke sektor tanaman pangan sebanyak 1,736 juta ton dari total alokasi pupuk urea bersubsidi sebanyak 4,5 juta ton. "Kebutuhan pupuk urea bersubsidi untuk 2008 sebenarnya dipatok 4,3 juta ton. Namun, ada penambahan 200.000 ton, di mana 90.000 ton merupakan tanggung jawab PKT," ucapnya.

Realisasi


Sementara itu, Direktur Pemasaran PKT IB Agra Kusuma mengatakan, pada Januari-Oktober 2008, total realisasi penyaluran pupuk urea bersubsidi PKT mencapai 1,393 juta ton atau sekitar 80 persen dari total tugas yang harus dilakukan PKT. Selain menyalurkan pupuk bersubsidi secara tertutup sesuai rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK), pihaknya juga memberi kesempatan kepada petani yang belum masuk dalam kelompok tani untuk membeli pupuk bersubsidi. "Tapi mereka harus membawa identitas dan surat dari kepala desa. Ini kemudian kami arahkan untuk masuk dalam kelompok tani. Tahun depan mereka tidak boleh lagi membeli pupuk, kecuali melalui kelompok tani dan sesuai RDKK," ujarnya.

Hal ini, lanjutnya, dilakukan agar semua petani masuk dalam kelompok tani, sehingga bisa diketahui kebutuhan pupuk sesungguhnya dalam setiap kelompok. Ini juga sekaligus memudahkan pengawasan dalam penyaluran pupuk urea bersubsidi.

Menurut dia, selama ini, isu kelangkaan pupuk juga kerap disebabkan kesalahpahaman masyarakat yang menganggap semua jenis pupuk sama. Jadi, kelangkaan belum tentu terjadi untuk jenis pupuk urea bersubsidi. Selain itu, kelangkaan juga bisa terjadi akibat penggunaan dosis yang berlebihan oleh petani serta majunya periode masim tanam. "Biasanya juga karena salah perhitungan kebutuhan," tuturnya. (Andrian)






Layanan Pelanggan & Pengaduan