Perhatian! Menginformasikan bahwa dalam proses Pengadaan, PT Pupuk Kaltim tidak pernah meminta sumbangan dalam bentuk apapun baik yang mengatasnamakan perusahaan, karyawan, manajemen ataupun direksi
 
Senin, 05 Desember 2016 Kecelakaan Industri Pupuk Kaltim Telan Korban Jiwa

Suara letupan dan semburan kabut putih tiba-tiba muncul di pabrik Pupuk Kaltim. Selasa (29/11) sekira jam 08.34 Wita, terjadi kebocoran gas amoniak di Amoniak Pabrik 2. Penyebab kebocoran adalah terjadinya pecah Gasket Flange 10 inch di bagian atas peralatan Top 120-C. Kejadian ini dibenarkan oleh GM Operasi 1 Pupuk Kaltim Heri Subagyo melalui Press Conference di Ruang Fisioterapi RS Kaltim Medika Utama (KMU). “Benar terjadi kecelakaan industri di Pupuk Kaltim. Kami telah melakukan penanggulangan kecelakaan industri dan mengupayakan yang terbaik untuk para korban,” kata Bagya. Turut hadir dalam Press Conference tersebut Direktur Utama RS KMU, Manager K3, Manager LH, Manager Humas, Manager Operasi Pabrik 3, Staf Kamtib, Tim Media RS KMU dan wartawan-wartawan Kota Bontang.

Lebih lanjut Heri menjelaskan bahwa upaya penanggulangan, penyelamatan dan evakuasi telah dilakukan, yaitu dengan menonaktifkan (shut down) pabrik Amoniak Pabrik 2 serta mengosongkan area. Dari kejadian tersebut, tiga orang karyawan menjadi korban. AM (36) dan RP (40) mengalami sesak nafas. AM berinisiatif untuk mengamankan diri ke dalam suatu ruangan namun tidak mengetahui bahwa ruangan tersebut telah terinfiltrasi oleh amoniak sehingga AM terjatuh lemas. RP terpapar amoniak saat berusaha untuk keluar dari tempat kerja. Karena tidak kuat mencium bau amoniak, RP terjatuh dan pingsan. AM dan RP telah ditolong oleh tenaga medis dan kondisi kesehatannya berangsur membaik sehingga tidak perlu perawatan lebih lanjut.

Namun tidak dengan AN (27). Sebelumnya AN sedang bekerja di area pipe rack dengan menggunakan body harness. AN panik karena terpapar amoniak dan melepaskan hook serta mencoba untuk turun. Karena paparan amoniak yang pekat, AN kehilangan kesadaran dan terjatuh dari ketinggian 5,5meter yang mengakibatkan patah kaki terbuka, dislokasi bahu, terjadi pendarahan di bagian kepala dan dinyatakan meninggal dunia pada saat perjalanan ke RS KMU.

“Kami akan bertanggungjawab atas insiden ini, terlebih ada korban yang meninggal,” kata Heri. Heri menambahkan bahwa seluruh biaya perawatan, pemakaman dan santunan untuk keluarga telah menjadi komitmen Pupuk Kaltim dan akan dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Heri juga meyakinkan bahwa saat ini kondisi pabrik secara keseluruhan sudah aman dengan hasil pantauan amoniak kurang dari 1 ppm, di bawah nilai ambang batas yang ditetapkan dan tidak membahayakan masyarakat di sekitar Perusahaan.

Kebocoran pertama kali diketahui oleh operator lapangan HRU (Hydrogen Recovery Unit) Pabrik 2 saat melakukan patroli di area NGCR (Natural Gas Condensat Recovery). Operator tersebut langsung melapor ke Control Room. Dia juga mencoba untuk melihat lebih dekat ke sumber kebocoran namun gagal karena bau amoniak yang menyengat. Dalam waktu cepat, tindakan pengamanan sistem segera dilakukan. Namun kondisi semakin parah, kebocoran semakin membesar dan membuat paparan amoniak dengan cepat menyebar ke area Pabrik 2, Pabrik 3 dan Pabrik 1A.

General Manager (GM) Operasi I Pupuk Kaltim Heri Subagyo yang juga bertindak sebagai Komandan Penanggulangan Keadaan Darurat (KPKD) memerintahkan seluruh tim terkait untuk berkumpul di Posko Tanggap Darurat. Melihat perkembangan yang terus memburuk, KPKD memerintahkan untuk membunyikan sirine Keadaan Awal Kecelakaan Industri. Informasi kebocoran amoniak juga disampaikan kepada Anak Perusahaan, JVC (Joint Venture Company) dan masyarakat di sekitar Perusahaan. Kebocoran amoniak semakin membesar, paparan amoniak semakin meluas, keadaan masih belum dapat diatasi, bahkan mengarah kepada kondisi yang lebih buruk. Kondisi ini membuat KPKD mengambil keputusan untuk membunyikan sirine Kecelakaan Industri Tingkat II.

Seluruh tim bergerak cepat dalam menanggulangi kebocoran amoniak, mencari dan memperbaiki sumber kebocoran. Setelah dilakukan penanggulangan, kebocoran amoniak berangsur-angsur mulai dapat diatasi. Walaupun demikian, KPKD tetap menginstruksikan untuk terus melakukan fighting hingga situasi benar-benar aman dan terkendali. Saat keadaan benar-benar sudah dapat diatasi, sirine Keadaan Aman akhirnya dibunyikan.
Di tempat lain, Ketua Tim Evakuasi bersama Regu SAR (Search and Rescue), Pemandu Arah dan P3K menolong karyawan yang berada di sekitar area kejadian untuk dievakuasi. Karyawan dibawa ke GAS (Gedung Aman Sementara) dan korban-korban dirawat sementara di GAS untuk selanjutnya dibawa ke RS Kaltim Medika Utama.

Itulah serangkaian kegiatan Latihan Tanggap Darurat yang rutin dilakukan oleh Pupuk Kaltim setiap tahun. “Kegiatan ini merupakan upaya Perusahaan agar seluruh karyawan selalu siap dan siaga terhadap keselamatan pekerja dan masyarakat di sekitar Perusahaan saat terjadi kondisi-kondisi yang tidak diinginkan,” kata Heri Subagyo. Untuk diketahui, Pupuk Kaltim telah memiliki Prosedur Penanggulangan Kecelakaan Industri dan terus diuji setiap tahun melalui latihan Tanggap Darurat. Tujuannya adalah untuk memastikan kesigapan personel yang terlibat dalam latihan tersebut jika kecelakaan industri benar-benar terjadi serta mengevaluasi Prosedur Penanggulangan Kecelakaan Industri. (nav)






Layanan Pelanggan & Pengaduan