Peran Umat Islam Dalam Menentukan Arah Pembangunan Bangsa Bersama : Ustadz Irwansyah Al Maidani, LC

26 Juni 2018

Pekan kedua kajian Ramadhan 1439 H di Masjid Raya Baiturrahman, diisi Talk Show Keislaman bersama Ustadz Irwansyah Al Maidani LC dari Jakarta. Mengangkat tema Peran Umat Islam dalam Menentukan Arah Pembangunan Bangsa pada Sabtu, 26 Mei 2018.

 

Diungkapkan Ustadz Irwansyah, berbicara peranan umat Islam dalam pembangunan, tak bisa dilepaskan dari perjuangan para ulama yang turut andil merebut kemerdekaan Indonesia, terbukti dengan lahirnya berbagai organisasi Islam yang berada di barisan terdepan melawan penjajah. Seperti halnya Syarikat Islam, yang dibentuk menandingi keberadaan kongsi dagang Hindia Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), hasil gagasan HOS Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Disamping juga organisasi Jong Indonesia pada 1927, sebagai cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda 1928, termasuk Jamiyatul Irsyad, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. “Kita jangan melupakan peranan ulama dan para pendahulu dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia agar kita mengerti dan bisa mengisi kemerdekaan dengan baik,” ujarnya.

 

Merujuk lebih jauh, peranan ulama juga tampak sejak abad ke-15, seperti halnya perjuangan Fatahillah dalam melawan Portugis. Dirinya pula yang kemudian merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, hingga akhirnya dikenal sebagai Jakarta saat ini. “Maka sudah sepatutnya sebagai muslim yang beriman, melandasi semangat dengan melihat kegigihan dan perjuangan para ulama saat merebut kemerdekaan bangsa,” tambahnya. Termasuk dengan mengisi kemerdekaan, umat muslim diimbau mampu mengambil peranan pada berbagai bidang kehidupan dalam pembangunan serta tidak bersikap acuh dalam menyikapi kondisi sosial yang terjadi.

 

Keberadaan Indonesia sebagai negeri yang besar dengan karunia dan kekayaan alam melimpah, bisa dimanfaatkan dengan baik melalui peran aktif seorang muslim, sesuai kompetensi serta kemampuan diri, sebagai bentuk syukur akan karunia Allah SWT, khususnya nikmat kemerdekaan yang kini dirasakan. “Jika kita berbakat di bidang politik, bangunlah bangsa melalui jalur politik. Kalau mampu berdakwah, ambillah peranan dalam bidang itu. Begitu juga dengan birokrat, jalankan birokrasi dengan baik,” ungkap Uztad Irwansyah Al Maidani.

 

Namun begitu ditegaskannya, setiap tindakan wajib didasari tuntunan agama sesuai ajaran Al-Quran dan Sunnah, sekaligus menjaga diri untuk berjalan pada jalur yang sesuai dan tidak memanfaatkan kapasitas yang dimiliki sebagai komoditas untuk keuntungan pribadi. Menurutnya, segala aktivitas harus dibingkai dengan iman dan mengingat Allah pada setiap tindakan. Hal tersebut niscaya menjadi dasar untuk tetap berbuat benar, sekaligus mengasah kepribadian yang selaras dengan tuntunan agama. “Hadirkan Allah di tiap bidang kehidupan, baik dalam pendidikan, perdagangan, politik atau apapun yang kita jalani. Ingatlah keberadaan-Nya yang selalu mengawasi setiap tindakan kita,” lanjutnya.

 

Jika hal ini bisa dicapai setiap insan, keberadaan Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang besar dan disegani dunia dengan masyarakat yang makmur dan sejahtera. Seperti halnya kisah yang diabadikan Allah melalui Surat Saba' (34), sebagai sebuah negeri yang makmur pada zaman Nabi Daud hingga Sulaiman, serta penuh dengan keberkahan dan rahmat. “Maka jangan sia-siakan nikmat dan keberkahan itu, sehingga menjadi alasan turunnya azab dari sang khalik,”  katanya.

 

Guna mencapai keberkahan tersebut, diperlukan rasa persatuan dan saling memiliki antar sesama rakyat Indonesia, serta tidak larut dalam kecenderungan yang mengarah ke perpecahan karena adanya perbedaan paham dan pendapat. Dirinya mengimbau umat muslim tak disibukkan dengan banyaknya potensi untuk saling membenturkan serta menjatuhkan antara satu dengan lainnya, yang bahkan mengancam persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa. Berbeda pemahaman menurutnya hal lumrah, tapi tidak lantas dijadikan pegangan untuk membenarkan pendapat pribadi atau kelompok tertentu. “Sebab yang dicari itu adalah persamaan antara kita, bukan perbedaan yang terus dibesarkan. Kita hidup dalam keragaman, maka penting bagi kita untuk terus bersinergi dalam berbagai hal yang kita sepakati,” pesannya.

 

Landasan tersebut berkaitan dengan tingkat ukhuwah sesama muslim, juga sebagai rakyat Indonesia dengan beragam suku dan agama. Sebab seorang muslim dengan keimanan yang kuat, akan mampu bersikap lapang dada dari saudaranya yang berbeda pendapat. Sikap inilah yang seharusnya ditanamkan pada diri setiap muslim, sesuai ajaran Rasulullah SAW untuk selalu bersabar dan bijak dalam menyikapi suatu perbedaan. “Jangan sampai malah kita yang memperkeruh suasana, karena seharusnya seorang muslim itu menyejukkan hati saudaranya. Sebab iman menghadirkan hubungan baik dalam hal apapun,” tutur Ustadz Irwansyah. (*/vo/nav)


Download:

    Meneladani Rasulullah SAW dalam Menjalani Ibadah Ramadhan Bersama: Ustadz Ahmad Rofiqi

    NEXT PAGE

    SNI AWARD
    PLATINUM

    PROPER
    EMAS

    INDUSTRI
    HIJAU LV.5